Posts

Thoun diMesir

Image
Pandemi COVID-19  itu tidak memilih-milih siapa, sedang apa, agamanya apa dan usianya berapa yang akan terjangkit. Walhasil siapa saja berpotensi terjangkit dan bahkan menularkannya, oleh karenya ikuti saja apa yang dihimbaukan pemerintah dalam rangka untuk menekan semakin memburuknya wabah Coro-na dinegri ini, adapun mengenai soal keagamaan yang berkaitan dengan mewabahnya corona ini ikuti saja apa yang sudah diputuskan dan dihimbaukna oleh LBM NU baik PBNU, PWNU atau PCNU  jangan sok-sokan paling religius dan paling bertauhid padahal nyatanya malah jauh dari ajaran baginda Nabi Muhammad SAW, berikut ini saya terjemahankan  tulisan Syaikh Dr. Ali Jum'ah tentang kejadian Wabah Thoun di mesir dimasa lalu sebagai i'tibar. Penduduk mesir di abad 15 berjumlah 20 juta jiwa, wabah besar (Thoun) melanda mesir tepatnya pada tahun 749 H dizaman Muhammad Ali Basa penduduk mesir berkurang menjadi kira-kira 2,5 juta jiwa. Imam Ibnu Hajar al-Asqolani menceritakan zaman Fatroh ters...

Tahqiqul Manath dalam Khilafiyah Penyelenggaraan Shalat Jumat

Perbedaan pendapat tentang wajib tidaknya penyelenggaraan Shalat Jumat di tengah penyebaran Virus Corona di Indoensia adalah wajar. Keputusan Bahtsul Masail, Fatwa, Taushiyah, pandangan bebarap ulama yang merilis pendapatnya di media sosial banyak perbedaan satu sama lain. Dari ragam perbedaan tersebut sebenarnya terdapat titik temu atau persamaan. Dan semuanya dapat dirujuk kepada pendapat ulama salaf yang otoritatif di lingkungan Madzhab Empat. Perbedaan -menurut hemat penulis- bukan di dalam hukum fiqh tapi di dalam proses dan hasil Tahqiiqul Manath-nya. Tahqqiiqul Manath adalah upaya pembuktian illat di dalam kasus (waaqi’ah) yang dibahas. Misalnya apakah penyakit yang diderita seorang pasien termasuk penyakit yang jika terkena air akan menyebabkan kesembuhan menjadi melambat (buth’ul bur’i) sehingga sudah bisa menyebabkan seseorang meninggalkan wudlu dan berganti tayammum atau belum. Bisa jadi pasien dan dokter berbeda pendapat. Atau antar beberapa dokter berbeda pend...

Apa Bagaimana dan untuk Apa Silaturrahim

Silaturrahim berasal dari bahasa Arab yang kemudian diresap menjadi bahasa Indonesia, berikut pengertian dalam KBBI: silaturahmi: si·la·tu·rah·mi n tali persahabatan (persaudaraan): malam --; tali --; ber·si·la·tu·rah·mi v mengikat tali persahabatan (persaudaraan): mereka - ke rumah sanak saudaranya Oleh karena silaturrahim asalnya dari bahan Arab maka berikut ini penjelasan Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an: Peran dan Fungsi Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Mizan, 1999: 317) Quraish Shihab menjelaskan arti silaturrahim ditinjau dari sisi bahasa. Silaturrahim adalah kata majemuk yang terambil dari kat bahasa Arab, shilat dan rahim. Kata shilat berakar dari kata washl yang berarti menyambung dan menghimpun. Ini berarti hanya yang putus dan terserak yang dituju oleh kata shilat itu. Sedangkan kata rahim pada mulanya berarti kasih sayang, kemudian berkembang sehingga berarti pula peranakan (kandungan). Arti ini mengandung makna bahwa karena anak yang dika...

Semerbak Wangi Bau Mulut

Oleh:  mulut yang tidak sedap  memang sedikit menggangu bagi diri sendiri atau lawan bicara kita, kadang membuat kita menjadi sungkan membuka mulut untuk berbicara, lebih-lebih saat puasa bau mulut semakin  memburuk. Adapun penyebabnya dilansir dari  Rebublik co. id. disebabkan Saat berpuasa kita tidak makan dan minum (kecuali antara waktu berbuka hingga sahur), asupan cairan terbatas. Lalu tak ada stimulus saliva yakni agen pembersih alami, mengandung enzim antibakteri dan menjaga keseimbangan bakteri dalam mulut. Kalau asupan cairan kurang dan tidak ada stimulus saliva, maka laju saliva menurun, sehingga penumpukan bakteri terjadi, memicu terjadinya halitosis (Bau mulut ). Namun kalau kita lihat dari disisi agama Bau mulut yang tidak sedap itu, justru merupakan sebuah keistimewaan tersendiri bagi orang yang berpuasa bahkan Makruh untuk menghilangkan nya. diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Sahih-nya: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِّ الصَّائِمِ أَط...

Ada Apa Dengan Sholat

 Abdullah asshohaby berkata: "dalam sholat terkumpul semua macam keta'atan, sebagian darinya adalah sebagai berikut: 1) Jihad (memusuhi atau memerangi) sebab seorang yang sholat sedang berjihad melawan Dau Musuh yakni dirinya sendiri dan syaitan. 2) Puasa, sebab seorang yang sholat tidak makan serta minum bahkan lebih dari itu (Puasa) dalam sholat terdapat Munajat. 3) Haji yakni menyengaja menuju al-bait (Ka'bah) sedangkan seorang yang sholat menuju Rab (pemilik) bait, bahkan lebih dari itu, dalam sholat lebih dekatnya musholi dengan kerajaanNya". Nabi bersabda: " Semua kuwajiban/Fardhu telah Allah wajibkan dibumi kecuali sholat dimana sesungguhnya Allah memfardhukanya dilangit, sedangkan aku (Muhammad) berada dihadapanNya". Selanjutnya Imam Nawawi al-Bantani memberikan penjelasan bahwa; Makna ketika mengangkat tangan dalam takbiratul ihram dalam sholat, seakan seorang hamba menyatakan dirinya telah tenggelam dalam lautan kesalahan dan kemaksiyatan, ma...

Benarkah Tidurnya orang yang berpuasa Ibadah

Salah satu Hadis populer khusus dibulan Romadhon adalah نوم الصَّائِم عبَادَة "Tidurnya orang yang berpuasa adalah Ibadah" Seakan Hadis tersebut menjadi dalil pembenaran untuk terus tidur terutama disiangnya bulan puasa, ironisnya santri pun demikian, ungkapan tersebut sebagai legitimasi serta  sebagai pembenaran untuk tidak mengikuti Ta'lim bahkan tidur saat pelajaran berlangsung, atau mungkin golongan santri ini pula yang ikut mempopulerkannya dikhalayak umum. Terlepas dari motif dari ungkapan tersebut , yang jelas hadis tersebut banyak tertulis dalam kitab-kitab Turots, sebut saja salah satunya kitab Lubabul Hadits karya as-Suyuti hadis tersebut tertulis dalam bab fadhilatu saum, disana ungkapan tersebut disandarkan kepada perkataan Nabi Muhammad Saw (hadits), Syaikh Nawawi al-Bantani dalam syarahnya Tangqihul Qoul mengutip pendapat al-Azizi menjelaskan " ada redaksi lain yakni "نوم العالم عبادة" yang memungkinkan merupakan lafazd riwayat yang lain,...

Cébong vs Kamprét

Image
Jelang pemilihan presiden 2019 Sinisme dibangun oleh dua kubu di tahun politik.Di media sosial, muncul sebutan bagi pendukung Presiden Joko Widodo, yaitu kecebong. Sementara pendukung tokoh selain Jokowi kerap disebut kampret. Fenomena ini berawal sejak kapan, siapa yang memulai, dan apa tujuannya saya secara pribadi tidak faham ... Katanya si  terjadi sejak Jokowi bertarung dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam pilpres 2014. Yang jelas pelebelan cébong dan kamprét ditunjukan untuk pendukung masing-masing calon presiden sampai sekarang masih banyaknya digunakan dan terlihat masih sangat masif terutama dimedsos. Hemat saya umpatan dan penyematan kata cébong atau kamprét yang disematkan kepada seseorang merupakan bentuk kebencian, caci maki, penghinaan atau kekecewaan dan ketidak setujuan dalam masalah pilihan politik, hal ini sangat tidak etis selain ungkapan tersebut menunjukkan sikap kurang menghargai dengan adanya perbedaan pendapat dalam pilihan, ju...